Dinginnya Hati-Hangatnya Sambutan Kota Itu

Hei,nama saya Pramudya Putri Kusumawardani,biasa dipanggil Dea. Saya anak nomor satu dari dua bersaudara. Kini saya menjalani kuliah saya di IAIN Ponorogo.

Ini adalah cerita saya!!

Hopeless
Yaaa.... Hmmm!
Saya terlahir sebagai alumni anak SMA dengan circle pertemanan yang yaaa.. bisa dibilang ga fanatik dengan hal-hal berbau agamis. Paling mentok,pelajaran agama yang biasa diajarin ya lewat buku ajar sama praktik waktu ujian. Itu juga kalau gurunya full masuk kelas wkwk. Bisa dibayangin lah ya, setelah masuk dunia perkuliahan yang garis besar basicnya adalah ilmu agama. 
Hmm...
Saya dulu gapernah punya cita-cita masuk perkuliahan yang sekarang dijalanin. Saya dibentuk secara sadar melalui organisasi-organisasi sekolah dulu dengan basic militer dan lingkungan rumah yang berbau medis. Bagaimana tidak,setiap hari saya bergelut dengan orang-orang yang berbicara tentang dunia yang dilatih dengan latihan mental serta olah tubuh yang dibentuk sedemikian rupa,tentunya dengan budaya keras dalam berlatih. Tak bisa dipungkiri juga,hal-hal tersebut secara tidak langsung mempengaruhi pola berpikir kita,dan mendorong cita-cita sesuai kebiasaan yang kita lakukan. 
Saya pernah ditanya oleh kakak tingkat saya pada suatu breffing seusai kegiatan organisasi di sekolah. Dia bertanya satu persatu tentang cita-cita yang kita inginkan. Dan hampir 8/10  dari kami menjawab "kami ingin menempuh langkah menata masa depan kami sesuai passion yang telah kita latih selama ini". Namanya juga anak SMA,masih mudah untuk dialihkan pikirannya dan dibentuk secara gampang. Namun ternyata, pembicaraan tersebut tak hanya berlaku pada saat itu saja,yang ternyata benar sebagian besar teman saya berkontribusi pada dunia sesuai passion kita tadi. Bahkan,bisa dihitung jari teman-teman yang se-organisasi itu yang menjalani perkuliahan. Dan saya menyukai kedua hal tersebut. Yaa. Mulai dari situ saya membulatkan tekad untuk menjalani tes ujian di dunia kesehatan. Saya memiliki ambisi tinggi untuk masuk ke dunia itu. Namun,untuk meraih semua itu tentu atas restu kedua orang tua pastinya. Tetapi,langkah saya terhenti karena ketidaksetujuan kedua orangtua saya untuk memasuki dunia tersebut karena suatu hal yang tidak bisa diceritakan. Dan akhirnya saya kehilangan kendali atas diri saya sendiri dan merasa tidak memiliki semangat cita-cita lagi. Dan hal tersebut sangat-sangat membuat saya menjadi minder.

Dunia Yang Baru

 Pada akhirnya,saya memutuskan untuk berhenti satu tahun untuk belajar dan niatnya nih.. tahun depan mau ikut SBMPTN lagi. Tapi ternyata,menurut saya itu sebuah kesalahan yang fatal. Karena,semakin saya menunda untuk memulai awal yang baru akan semakin malas memulainya kembali. Hingga pada akhirnya,saat SBMPTN itu kembali diadakan saya merasa tidak memiliki jiwa semangat untuk mengikutinya kembali. Hadeuh. 
Setelah itu saya bingung ingin bagaimana. Lalu saya mencari informasi,dan ketemulah SPAN PTKIN pada saat itu. Dan cerobohnya saya tak berpikir panjang akan hal yang saya pilih saat itu. Disitu saya mendaftar dan mengikuti ujian yang telah diselenggarakan. Saya tidak berfikiran bahwasannya saya akan diterima. Namun ,ternyaat Tuhan memiliki jalan-Nya yang ditunjukkan pada saya. Entah saya harus bersedih atau gembira yang jelas saya menangis saat itu,saya diterima di kuliah saya yang sekarang. Dan kalau boleh jujur,selama ospek saya menangis haha. 
Setelah itu,saya baru menyadari bahwa semua bertolak belakang dengan dunia dan kebiasaan saya sebelumnya. Hal itu jadi sangat tak mudah untuk saya jalani. Mulai dari pertemanan yang tak sefrekuensi,materi ajar berbau agama yang sama sekali saya tidak fahami. Walaupun,mayoritas materinya adalah mengulang kembali Pembelajaran umum ketika Di SMA. Disitu saya mengalami banyak sekali hal yang bertolak belakang dengan hati saya. Bahkan hingga saat ini,saya masih perlu belajar keras menyukai semua hal yang telah bersama saya sejak 2019 silam,walaupun sedikit demi sedikit banyak pula hal yang saya syukuri dengan adanya pilihan yang saya pilih di perkuliahan ini.  Hingga waktu demi waktu terus berlalu,sampai akhirnya saya berada pada titik sadar. Hati saya pernah berkata "Bisa jadi ini doa yang dulu saya panjatkan ,agar bisa belajar melalui pembelajaran setiap hari agar dapat dekat dengan Tuhan."